Indah dunia menyinari
sekelilingnya, suasana yang bahagia kini menjadi derita insan yang tak bersalah
dan berdosa. Dia menjalani hidupnya tanpa arti, memandang dirinya sebagai
mahkluk tak berarti. Dina itulah namanya, dia seorang gadis yang polos tapi dia
memiliki seribu cita-cita yang terpendam.
Dengan keadaannya yang kini
serba kekurangan, dia melantarkan cita-citanya begitu saja dengan penuh
harapan. Dina kini hidup hanya dengan seorang Ayah. Keluarganya sudah tak
tersisa kecuali dia dan Ayahnya.
Cita-cita itu tidak ada
dukungan dan dorongan sedikitpun dari sang Ayah, walau didepan Ayahnya dia
tidak lagi berharap, tapi dalam hati nurainya dia tetap berharap dan mempunyai
keinginan kuat untuk meraihnya.
Suatu saat dia berada pada
jalan pertama untuk meraih cita-citanya. Dengan berusaha keras untuk selalu
mengikuti pembelajaran, walau hanya dengan mengintip di selah-selah jendela dia
tetap bersemangat. Kesempatan itu tak pernah dia sia-siakan.
Dia juga selalu menolong
orang walaupun dia sendiri butuh pertolongan, pada saat dia pulang, Ayahnya
mengetahuinya. “dari mana kamu?” tanya sang Ayah. “Kenapa masih saja kamu
ngejar cita-citamu yang nggak jelas itu? Kamu tahu, itu nggak akan bisa kamu
raih!! Kamu ini anak orang susah, lagian buat apa kamu sekolah? Toh kamu juga
nantinya hanya akan jadi ibu rumah tangga yang kerjanya di dapur dan hanya
mengurusi anak saja!” “sudah sana masuk!!” seru sang Ayah. Ayahnya tanpa
sengaja pada saat itu mengetahui kelakuan anaknya yang tiap pagi pergi belajar
di sela-sela jendela sekolah. Akhirnya dina masuk kamar dengan menundukkan
kepala dan tanpa bicara sedikitpun pada sang Ayah.
Dengan perkataan sang Ayah,
Dina lebih berfikir apa maksud perkataan sang Ayah tadi, “memang benar nantinya
perempuan hanya hidup di dapur dan mengurus anak saja, tapi aku akan bisa lebih
berprestasi untuk menjadi seorang wanita” gerutunya dalam hati dengan penuh
semangat. Lagi-lagi semangat Dina terus terpancar dalam jiwanya.
Suatu saat Dina merasakan
bahwa jalan untuk meraih cita-citanya kini semakin luas, dia diangkat sebagai
murid di sekolah tempat dia biasa belajar dengan sembunyi-sembunyi dan menjadi
murid teladan, kreatif dalam segala hal. Akhirnya Dina diikutkan lomba dan dia
meraih juara 1.
Kini dia lulus dan diterima
di salah satu universitas favorit, dia selalu berprestasi, hingga dosen-dosen
selalu meminta bantuan ke dia dan mengikutkan dia lomba-lomba yang menantang.
Lagi-lagi dia berhasil menjadi juara.
Dengan semua prestasi dan
semangat anaknya, sang Ayah sadar bahwa selama ini putrinya memang berbakat dan
pantas mendapatkan semua ini. Tapi, keadaan yang serba kekurangan ini membuat
sang Ayah kebingungan akan kelanjutan masa depan anaknya, walaupun Dinda telah
dibiayai semuanya oleh pemerintah karena kepandaian dan kecerdasannya.
Di dalam universitasnya,
Dinda selalu memperoleh nilai A+ di tugasnya. Dia menyelesaikan sekripsinya
dengan baik. Sampai pada akhirnya dia lulus dengan nilai istimewa.
Setelah lulus dia diangkat
di salah satu perusahan terbesar di Jakarta. Dia menjadi karyawan terbaik pada
saat itu. Dia selalu memberikan yang terbaik untuk clientnya, hingga tak sampai
1 tahun dia bekerja di sebuah perusahaan tersebut, dia diangkat menjadi seorang
manager.
Sang Ayah sangat bangga
dengan anaknya, dan sekarang kehidupannya telah dirubah total oleh anaknya.
Kini kehidupannya sejahtera dan serba kecukupan. Berkat sang anak semuanya
terlihat cemerlang, kini Dina yang dulu hanyalah seorang anak yang serba
kekurangan segala hal, kini dengan semangatnya dia berhasil menjadi orang yang
paling berarti untuk siapapun, dengan keberhasilan itu dia tidak sombong, dia
tetap baik, suka menolong dan rendah hati.
Berlalunya waktu hingga dia
telah dewasa, dia tinggal bersama sang Ayah dengan penuh kebahagiaan. Kini dia
telah memiliki perusahaan sendiri dan perusahaan itu telah menjadi perusahaan
terbesar dan terkaya di jakarta.
Dina seorang anak yang
teramat semangat untuk mencapai cita-citanya, dan kini telah berhasil.
Sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika kita semangat dan
pantang menyerah, semua bisa kita raih, jalan telah ada di depan mata. Tinggal
kita bagaimana caranya untuk menjalankan dan mengatur jalan itu.
Kini Dina hidup bahagia
bersama kehidupannya, terutama hubungannya dengan sang Ayah yang telah membaik.
.....................SELESAI...................
Arumm-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar