Jumat, 10 Mei 2013

Tak Ada Judul

Disini, tepat malam ini dan hari ini. Mungkin semua mulai ikut merasakan ketika lentik jemariku kupermainkan dalam papan huruf yang tertata acak.

Samar-samar tak terlihat saat pendengaranku belum mengetahui apapun tentang apa yang seharusnya terjadi.
Dia. Yaa.. masih sama, masih berbicara tentang bulan terang yang tersenyum indah disudut langit sana. Tetapi ada yang aneh,malam ini dia murung,dia berpijak pada hal lain yang seakan tak ingin dia tunjukkan ke aku. Aku siap menunggu. Sampai akhirnya ucapan itu menggetakkan parasaanku. Melemahkan jiwaku. Membekukan hatiku. Memanaskan mataku dan memaksa butiran suci bening untuk keluar,walau tak sedikit jumlahnya.
Aku sempat berpikir, bukankah ini tindakan yang benar? Ini kenyataan, bukan drama dalam telenovela. Ini asli, bukan rekayasa. Ini terjadi. Sampai akhirnya aku termenung,kala suara pada malam itu tidak memperbolehkanku untuk terlelap,inilah jawabannya. Karna memang bulan mau pergi. Walau sebentar. Bulan sudah redup. Dan itulah kenyataan yang memang harus diterima. “Akankah dia akan menari lagi bersamaku? Ya,tapi nanti. Satu bulan kemudian”.
“Ternyata kemaren lusa adalah hari yang memang dirancang Tuhan untuk aku bisa merasakan sinarnya. Untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi”. “Walau bintang  tak bisa terang tanpa bulan, bintang siap menunggu bulan kembali.” Tak bisakah ini dihentikan??? Tuhan,aku ingin dia tetap bersamaku. Disini,tapi aku rela. Karna langkah ini bisa membuat bulan akan lebih terlihat terang dihadapan bintang. Aku diam, melangkah sedikit yang akhirnya aku berada di ujung, tak terlihat. Gelap. “Terima kasih Tuhan, Kau berikan langkah indah walau tak ingin aku rasakan, Kau tetap lindungi dia. Dan akan memberikan sinar yang lebih terang untuk kekasihku, BULAN.”


Arumm-

1 komentar: