Disini, tepat malam ini dan
hari ini. Mungkin semua mulai ikut merasakan ketika lentik jemariku
kupermainkan dalam papan huruf yang tertata acak.
Samar-samar tak terlihat
saat pendengaranku belum mengetahui apapun tentang apa yang seharusnya terjadi.
Dia. Yaa.. masih sama,
masih berbicara tentang bulan terang yang tersenyum indah disudut langit sana.
Tetapi ada yang aneh,malam ini dia murung,dia berpijak pada hal lain yang
seakan tak ingin dia tunjukkan ke aku. Aku siap menunggu. Sampai akhirnya ucapan
itu menggetakkan parasaanku. Melemahkan jiwaku. Membekukan hatiku. Memanaskan
mataku dan memaksa butiran suci bening untuk keluar,walau tak sedikit
jumlahnya.
Aku sempat berpikir,
bukankah ini tindakan yang benar? Ini kenyataan, bukan drama dalam telenovela.
Ini asli, bukan rekayasa. Ini terjadi. Sampai akhirnya aku termenung,kala suara
pada malam itu tidak memperbolehkanku untuk terlelap,inilah jawabannya. Karna
memang bulan mau pergi. Walau sebentar. Bulan sudah redup. Dan itulah kenyataan
yang memang harus diterima. “Akankah dia akan menari lagi bersamaku? Ya,tapi
nanti. Satu bulan kemudian”.
“Ternyata kemaren lusa
adalah hari yang memang dirancang Tuhan untuk aku bisa merasakan sinarnya.
Untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi”. “Walau bintang tak bisa terang
tanpa bulan, bintang siap menunggu bulan kembali.” Tak bisakah ini
dihentikan??? Tuhan,aku ingin dia tetap bersamaku. Disini,tapi aku rela. Karna
langkah ini bisa membuat bulan akan lebih terlihat terang dihadapan bintang.
Aku diam, melangkah sedikit yang akhirnya aku berada di ujung, tak terlihat.
Gelap. “Terima kasih Tuhan, Kau berikan langkah indah walau tak ingin aku
rasakan, Kau tetap lindungi dia. Dan akan memberikan sinar yang lebih terang
untuk kekasihku, BULAN.”
Arumm-
Nice Honey :')
BalasHapus