Laju kecepatan semakin
dikurangi, terisak dingin yang mencekam ditubuhku. Rangkulan tangan yang
semakin erat melengkung di pinggangnya.
Hening, tak ada suara. “Aku
paling suka bulan ini.” Serak suara manis tiba-tiba menggunjang ditelingaku.
“Bulan Agustus, kenapa??“ “Bukan, lihat diatas kamu. Bulan itu, aku suka bulan
itu.” Senyum manis tiba-tiba melengkung dibibirnya dan menusuk syaraf
perasaanku yang paling dalam. Terikat seakan tak mampu untuk berbicara, apalagi
mengatur dan menata kata-kata.
“Kenapa begitu menyukai
bulan sabit? “ “Iya, bulan itu terlihat berani, kuat,dan hebat seperti pedang.
Aku ingin seperti bulan itu.” Sesak bicaraku tak lagi bisa diatur, hanya diam,
mendengar dan berfikir tentangnya. Buatku, berada disampingnya dan mendengar
semua kesukaannya itu lebih dari cukup. Aku mau harus terus menari dengan
angin, kegelapan, jika aku bersama dia. Selama apapun itu, aku sanggup. “Kalau
Bintang?“ tanyaku sembari berharap dia menyukai bintang, sama sepertiku.
“Aku ga suka.”
“kenapa? Bintang itu
cantik.”
“kamu suka bintang?”
“banget.. “ jawabku
pelan,samar, seakan ikut menari dalam dekap bintang yang telah kukagumi selama
ini.
“terus?? “
“Aku sering keluar rumah
saat malam hari, dari jutaan bintang yang ada dilangit. Aku yakin, pasti ada
satu buat aku. Dan aku sering nyari,mana yang punyaku.” Pelan ; hening yang
dirasakan dalam malam, hanya angin yang terdengar.
“sekarang,masih suka nyari
yang mana bintang kamu?”
“selalu, tapi mungkin malam
ini sudah enggak. Karena bintangnya sudah ada didepanku.” ketawa kecil
terdengar dari bibir mungilnya. Akupun ikut tertawa, gas dipercepat, sekuat
mungkin aku terdiam, memeluk erat dalam ketawanya. I love you.. kata terakhir
yang dia ucapkan :’)
Percakapan kecil yang selalu aku ingat, seperti saat
ini.
Dalam kesibukanku menata masa depan,aku masih sempat
mengingatnya. Bahkan selalu terdengar ditelingaku.
Kau mengingatnya??
Arumm-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar