Senin, 20 Februari 2012

Jeritan Anak Jalanan

Aku sering melihat keganjalan dalam kehidupan di dunia ini. Kurasakan seakan ada sebuah ke tidak adilan dalam perjalanan hidup ini. Semua gelap di dalam dunia mereka, seandainya aku bisa memilih, tak akan ku pilih dunia yang mengacaukan masa depan seorang anak yang tidak bersalah dan tidak berdosa.

Aku merasakannya, tapi tak dapat ku pungkiri, kini tuhan telah menempatkanku dalam kehidupan di selah-selah mereka, tapi aku bahagia karena aku dalam keadaan yang serba kecukupan. kembali ku pandangi kehidupan mereka, perasaan yang mulai menempatkan kegelisahan pada diriku setiap kulihat mereka berdiri melihat masa depannya kelak. Ingin sekali rasanya ku sebrangi kehidupan mereka dengan kebahagiaan yang utuh. Kesekian kalinya aku berfikir tanpa arah tentang kehidupan mereka.
Bagaimanakah kehidupan mereka kelak di masa depan? Akankah mereka tak pernah melihat sebenarnya keindahan dunia? Ataukah mereka berubah menjadi sebuah kelompok yang memang berbeda dengan kelompok lain? Kini ku ukir harapanku untuk mereka, agar mereka dapat melihat masa depan dengan indah, tanpa mengorbankan masa kecil mereka seperti ini, menjadi anak jalanan yang bekerja sebagai pencopet, pengemis, pengasong, pengamen, dsb.
Sekilas jalan hidup anak jalanan, terkuras seperti saat semua telah tak berdaya. Di suatu pagi yang cerah datanglah segerombol anak jalanan yang menyongsong kehidupannya demi sebuah pengganjal perut. “heeeiii,, “ teriak salah seoarang dari mereka, katakanlah dia Udin. Tantro yang telah di panggil pun kini menolehkan pandangannya ke Udin. “sampai kapan kau berdiri disitu? Bisakah kau makan hanya dengan berdiri saja seperti ayam yang sedang menunggu telurnya??” “mari ikut aku, cepat!! Kita ngamen di pasar” tawar Tantro. “ya.. yaa.. ya...” sahut Udin. Mereka pun berangkat dengan semangatnya. Walau hanya dengan mengamen, mereka bahagia dan semangat mereka tak akan pernah berubah, mereka berharap kelak kehidupan mereka akan sukses. Yaa.. itulah semangat mereka, tapi tidak jika melihat pada sisi lain, seorang anak yang bernama Ucup, kini tak pernah berhenti berharap dan bermimpi akan masa depannya kelak.
“Seandainya aku tercipta sebagai anak yang sempurna, aku ingin menjadikan negara ini tak akan pernah menebar korupsi. Aku ingin mendirikan sekolah dengan keikhlasan hatiku agar semua anak di negara ini nggak ada yang tersia-siakan seperti ini.” Tetes air mata pun keluar dari mata gemerlap Ucup yang memunculkan harapan dan harapan yang tinggi. Seandainya aku bisa memutar kembali waktu, tak akan pernah aku jadikan dunia ini penuh dengan air mata seorang anak yang sama sekali tak bersalah. Tapi apa daya, semua telah tertata rapi oleh-Nya dan sudah ditulis-Nya sebagai sebuah kehendak yang memang harus dijalani.
Pada saat itu, sore menyongsong aktivitas mereka. Dengan sengaja mereka tinggalkan semua kegiatan yang telah mereka lakukan. Keadaan kembali berubah, dengan impian Ucup yang kembali menebar di kegelapan malam. Kini semua menjadi seperti dunia yang kehilangan arah. “hiks.. hiks... hiks..” suara baru mencampur dalam aktivitas mereka. Udin pun dengan setengah kaget bangun dari duduknya dan bergegas menghampiri suara itu. Larian Udin semakin mendekat dengan suara itu. Hampir setengah kaget Udin melihatnya, tapi................
Tak lama kemudian udin berlari kembali menghampiri teman-temanya. Dia menceritakan semua yang telah dia lihat, ternyata tangisan itu datang disetiap malam tiba. Tangisan itu adalah jeritan seorang anak yang sedang merasakan kegelapan dan kesendirian, kesepian disetiap hari-harinya. Semua meneteskan air mata, merasakan kecemasan yang terdalam untuk si kecil mimi. Tak ada kehidupan indah dalam hari-hari mimi, semuanya hampir padam tak ada cahaya sedikitpun di hidupnya, menyiksa, menjalani kehidupannya sendiri.
Kenapa tak ada dunia yang indah untuk anak jalanan????
Apakah memang mereka tak pantas untuk dapatkan yang terindah?? Kenapa tak ada ulur tangan pemerintah untuk mengembalikan sedikit senyum dan kebahagiaannya? Apa hanya uang dan jabatan yang selalu mereka ukir dan pikirkan untuk negara? Ataukah dosa jika anak jalanan bahagia? Tidak kan?? Sekilas untuk itu, aku menghadirkan segenap harapan agar dari tatapan pemerintah dapat sedikit peduli dengan golongan bawah seperti mereka. Udin,ucup,mimi, tak pantas untuk menerima semua itu.
Mereka pantas untuk bahagia. Mereka masih muda, mereka siap untuk meneruskan perjuangan untuk negara seperti bungkarno,tapi tak ada dukungan dari pihak atas. Bagaimana semangatnya terbentuk? tak tersentakkah mereka membangun impian anak bangsa?? Tuhan,apa sebenarnya arti anak jalanan jika dilihat dari kacamata pemerintah? Apakah mereka itu sampah? Sampah bagi negara?? Andai semua dapat aku lukis kembali,tak akan pernah ku goreskan lukisan air mata yang menerobos kebahagiaan mereka.


Tuhan.. indahkanlah kehidupan mereka,
Hentakkanlah perassan dan hati pemerintah untuk sedikit menoleh membangun bahagia untuk mereka.. mereka tak bersalah, mereka para pemuda, yang siap membangun bangsa lebih maju, mereka pantas dapatkan kebahagiaan yg nyata. Dan mereka bukan sampah,tapi mereka adalah impian dunia..



Arumm-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar