Aku sering melihat
keganjalan dalam kehidupan di dunia ini. Kurasakan seakan ada sebuah ke tidak
adilan dalam perjalanan hidup ini. Semua gelap di dalam dunia mereka,
seandainya aku bisa memilih, tak akan ku pilih dunia yang mengacaukan masa
depan seorang anak yang tidak bersalah dan tidak berdosa.
Aku merasakannya, tapi tak
dapat ku pungkiri, kini tuhan telah menempatkanku dalam kehidupan di
selah-selah mereka, tapi aku bahagia karena aku dalam keadaan yang serba
kecukupan. kembali ku pandangi kehidupan mereka, perasaan yang mulai
menempatkan kegelisahan pada diriku setiap kulihat mereka berdiri melihat masa
depannya kelak. Ingin sekali rasanya ku sebrangi kehidupan mereka dengan
kebahagiaan yang utuh. Kesekian kalinya aku berfikir tanpa arah tentang
kehidupan mereka.
Bagaimanakah kehidupan
mereka kelak di masa depan? Akankah mereka tak pernah melihat sebenarnya
keindahan dunia? Ataukah mereka berubah menjadi sebuah kelompok yang memang
berbeda dengan kelompok lain? Kini ku ukir harapanku untuk mereka, agar mereka
dapat melihat masa depan dengan indah, tanpa mengorbankan masa kecil mereka
seperti ini, menjadi anak jalanan yang bekerja sebagai pencopet, pengemis,
pengasong, pengamen, dsb.
Sekilas jalan hidup anak
jalanan, terkuras seperti saat semua telah tak berdaya. Di suatu pagi yang
cerah datanglah segerombol anak jalanan yang menyongsong kehidupannya demi
sebuah pengganjal perut. “heeeiii,, “ teriak salah seoarang dari
mereka, katakanlah dia Udin. Tantro yang telah di panggil pun kini menolehkan
pandangannya ke Udin. “sampai kapan kau berdiri disitu? Bisakah kau makan
hanya dengan berdiri saja seperti ayam yang sedang menunggu
telurnya??” “mari ikut aku, cepat!! Kita ngamen di pasar” tawar
Tantro. “ya.. yaa.. ya...” sahut Udin. Mereka pun berangkat dengan
semangatnya. Walau hanya dengan mengamen, mereka bahagia dan semangat mereka
tak akan pernah berubah, mereka berharap kelak kehidupan mereka akan sukses. Yaa..
itulah semangat mereka, tapi tidak jika melihat pada sisi lain, seorang anak
yang bernama Ucup, kini tak pernah berhenti berharap dan bermimpi akan masa
depannya kelak.
“Seandainya aku tercipta
sebagai anak yang sempurna, aku ingin menjadikan negara ini tak akan pernah
menebar korupsi. Aku ingin
mendirikan sekolah dengan keikhlasan hatiku agar semua anak di negara ini nggak
ada yang tersia-siakan seperti ini.” Tetes air mata pun keluar dari mata
gemerlap Ucup yang memunculkan harapan dan harapan yang tinggi. Seandainya aku
bisa memutar kembali waktu, tak akan pernah aku jadikan dunia ini penuh dengan
air mata seorang anak yang sama sekali tak bersalah. Tapi apa daya, semua telah
tertata rapi oleh-Nya dan sudah ditulis-Nya sebagai sebuah kehendak yang memang
harus dijalani.
Pada saat itu, sore
menyongsong aktivitas mereka. Dengan sengaja mereka tinggalkan semua kegiatan
yang telah mereka lakukan. Keadaan kembali berubah, dengan impian Ucup yang
kembali menebar di kegelapan malam. Kini semua menjadi seperti dunia yang
kehilangan arah. “hiks.. hiks... hiks..” suara baru mencampur dalam
aktivitas mereka. Udin pun dengan setengah kaget bangun dari duduknya dan
bergegas menghampiri suara itu. Larian Udin semakin mendekat dengan suara itu.
Hampir setengah kaget Udin melihatnya, tapi................
Tak lama kemudian udin
berlari kembali menghampiri teman-temanya. Dia menceritakan semua yang telah
dia lihat, ternyata tangisan itu datang disetiap malam tiba. Tangisan itu
adalah jeritan seorang anak yang sedang merasakan kegelapan dan kesendirian,
kesepian disetiap hari-harinya. Semua meneteskan air mata, merasakan kecemasan
yang terdalam untuk si kecil mimi. Tak ada kehidupan indah dalam hari-hari
mimi, semuanya hampir padam tak ada cahaya sedikitpun di hidupnya, menyiksa,
menjalani kehidupannya sendiri.
Kenapa tak ada dunia yang
indah untuk anak jalanan????
Apakah memang mereka tak pantas untuk dapatkan yang
terindah?? Kenapa tak ada ulur tangan pemerintah untuk mengembalikan sedikit
senyum dan kebahagiaannya? Apa hanya uang dan jabatan yang selalu mereka ukir
dan pikirkan untuk negara? Ataukah dosa jika anak jalanan bahagia? Tidak kan??
Sekilas untuk itu, aku menghadirkan segenap harapan agar dari tatapan
pemerintah dapat sedikit peduli dengan golongan bawah seperti mereka.
Udin,ucup,mimi, tak pantas untuk menerima semua itu.
Mereka pantas untuk
bahagia. Mereka masih muda, mereka siap untuk meneruskan perjuangan untuk
negara seperti bungkarno,tapi tak ada dukungan dari pihak atas. Bagaimana
semangatnya terbentuk? tak tersentakkah mereka membangun impian anak bangsa??
Tuhan,apa sebenarnya arti anak jalanan jika dilihat dari kacamata pemerintah?
Apakah mereka itu sampah? Sampah bagi negara?? Andai semua dapat aku lukis
kembali,tak akan pernah ku goreskan lukisan air mata yang menerobos kebahagiaan
mereka.
Tuhan.. indahkanlah kehidupan mereka,
Hentakkanlah perassan dan hati pemerintah untuk sedikit menoleh membangun
bahagia untuk mereka.. mereka tak bersalah, mereka para pemuda, yang siap
membangun bangsa lebih maju, mereka pantas dapatkan kebahagiaan yg nyata. Dan
mereka bukan sampah,tapi mereka adalah impian dunia..
Arumm-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar