Minggu, 26 Agustus 2012

Siapa Pelakunya?

Dingin merasuk dalam tubuhnya malam itu, menelusuri jejak-jejak yang mungkin telah terhapus. Ingatan itu kembali berlari-larian diotaknya. “sumpah,aku masih ingin berada disana.” dengan suara tak berirama sembari tetes air mata yang mengalir.

“kau rangkai kebohongan, kau beri penipuan, dan kau tulis penghianatan!”
“Sudah puaskah kau melakukannya?”
“Apa ada lagi yang lebih hina dan kejam dari itu?”
“Lakukan selagi kau ingin!” desak tangis yang seakan tak bisa lagi ia kontrol malam itu hingga membuatnya tak bisa bebas bernafas. Ia seakan diikat kuat oleh karbondioksida. “Mengapa harus ini yang terjadi??” “Mimpi kita, kau sudah tak ingin merangkainya?” seribu pertanyaan berputar-putar di pikirannya, menusuk dirinya dan tak lagi membuatnya tersenyum. Tersenyum? berbicara pun tidak.
 Ia menyukai diam. Saat ini pun, dia masih mencintai diam. Tak ada suara, senyuman, tangisan, hanya hembusan nafas sesak yang sedang menggelutinya.
Tak ada orang, satupun. Sendiri dalam diamnya. Mungkin ia sedang merindukan saat-saat ia sendiri dengan lamunan yang beranjak pada penghianatan. “maaf.” Kata itu yang membuat bibirnya mulai menari. Dan hanya kata itu yang ia ucapkan berkali-kali. Ia seperti orang gila yang tak lagi tau kehidupan, kebahagiaan, bahkan kesedihan. Sekejam apa orang yang telah membuatnya tak lagi mengerti indahnya pelangi, bintang, bahkan kehidupan?
Hembusan nafas yang semakin sesak ia rasakan, masih sepi tak ada orang. Ia mulai tak kuat, ditariknya barang terdekat yang berada disekelilingnya. Ia hantam, ia pukulkan ketubuhnya, ia remas, dan ia banting dengan kerasnya. Ia hanya bisa menyakiti dirinya sendiri, ia tak mau menyakiti orang lain. Karna mungkin ia pun tak kenal orang lain diluar sana. Hanya orang jahanam yang membuatnya seperti itu dan dirinya sendiri yang ia tahu. Ia tak punya siapa-siapa.
Hanya angin dan kesepian yang ia kagumi, bahkan kegelapan yang sangat buram yang telah berhasil menambah sesak dalam hidupnya. Ia mencoba kuat dengan semua sesaknya. Barang disekelilingnyapun habis bersih karna ulah tangan gilanya. Semakin sesak, semakin gelap, dan tak bergerak. Bujur kaku dan dingin menggigil ditubuhnya. Mungkin ia telah temukan bahagianya disurga :’) . semoga saja--



Arumm-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar