Dingin merasuk dalam
tubuhnya malam itu, menelusuri jejak-jejak yang mungkin telah terhapus. Ingatan
itu kembali berlari-larian diotaknya. “sumpah,aku masih ingin berada disana.”
dengan suara tak berirama sembari tetes air mata yang mengalir.
“kau rangkai kebohongan,
kau beri penipuan, dan kau tulis penghianatan!”
“Sudah puaskah kau
melakukannya?”
“Apa ada lagi yang lebih
hina dan kejam dari itu?”
“Lakukan selagi kau ingin!”
desak tangis yang seakan tak bisa lagi ia kontrol malam itu hingga membuatnya
tak bisa bebas bernafas. Ia seakan diikat kuat oleh karbondioksida. “Mengapa
harus ini yang terjadi??” “Mimpi kita, kau sudah tak ingin merangkainya?”
seribu pertanyaan berputar-putar di pikirannya, menusuk dirinya dan tak lagi
membuatnya tersenyum. Tersenyum? berbicara pun tidak.
Ia menyukai diam.
Saat ini pun, dia masih mencintai diam. Tak ada suara, senyuman, tangisan,
hanya hembusan nafas sesak yang sedang menggelutinya.
Tak ada orang, satupun.
Sendiri dalam diamnya. Mungkin ia sedang merindukan saat-saat ia sendiri dengan
lamunan yang beranjak pada penghianatan. “maaf.” Kata itu yang membuat bibirnya
mulai menari. Dan hanya kata itu yang ia ucapkan berkali-kali. Ia seperti orang
gila yang tak lagi tau kehidupan, kebahagiaan, bahkan kesedihan. Sekejam apa
orang yang telah membuatnya tak lagi mengerti indahnya pelangi, bintang, bahkan
kehidupan?
Hembusan nafas yang semakin
sesak ia rasakan, masih sepi tak ada orang. Ia mulai tak kuat, ditariknya
barang terdekat yang berada disekelilingnya. Ia hantam, ia pukulkan ketubuhnya,
ia remas, dan ia banting dengan kerasnya. Ia hanya bisa menyakiti dirinya
sendiri, ia tak mau menyakiti orang lain. Karna mungkin ia pun tak kenal orang
lain diluar sana. Hanya orang jahanam yang membuatnya seperti itu dan dirinya
sendiri yang ia tahu. Ia tak punya siapa-siapa.
Hanya angin dan kesepian
yang ia kagumi, bahkan kegelapan yang sangat buram yang telah berhasil menambah
sesak dalam hidupnya. Ia mencoba kuat dengan semua sesaknya. Barang
disekelilingnyapun habis bersih karna ulah tangan gilanya. Semakin sesak,
semakin gelap, dan tak bergerak. Bujur kaku dan dingin menggigil ditubuhnya.
Mungkin ia telah temukan bahagianya disurga :’) . semoga saja--
Arumm-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar