Minggu, 25 Mei 2014

Si Kece di Kota Pahlawan

Panas Menusukku,
Menerobos tulang rusuk menjadi sedikit hampir remuk. Kala itu masa menangkapku kembali. Mengajakku kembali bergelut bersama senyuman itu. Aku tahu kamu pun tak akan pernah tersentak akan hal ini. Tapi aku? Aku bisa.

Saat ini aku terperangkap sendiri, mengikat dan memaksa agar lepas dari kutukan ini. Tuan kece yang ada di kota Pahlawan, apa kau disana mengingatku? Mengingat persis akan apa yang pernah kita lakukan bersama?
Berpagut dalam suasana rindu,kau pulang dan hal pertama yang kau lakukan adalah mencium keningku, berbisik aku merindukanmu. Kau sempat mengingatnya? Bahkan saat kau bersamanya? Tidak. Kau bukan orang yang suka memeluk kenangan.
Kita juga pernah bergelut tawa dalam sebuah ruang, yang disaat itu kau berbicara dalam panggilan. Kau sibuk dengan percakapanmu, dan saat itu aku mencoba untuk meriuhkan suasana. Ku dekatkan wajahku setengah senti dari wajahmu, kecup manis terjadi. Dan kita tertawa. Manisnya.. aku yakin kau tidak akan mengingatnya,sedikitpun dari hal itu.

Gadis bodoh yang dengan lancangnya masih menaruh harapan,
masih sempat bermimpi, dan masih sering mengeluh
dalam kenangan yang kau anggap ABU ; aku.


Arumm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar