Panas Menusukku,
Menerobos tulang rusuk menjadi sedikit hampir
remuk. Kala itu masa menangkapku kembali. Mengajakku kembali bergelut bersama
senyuman itu. Aku tahu kamu pun tak akan pernah tersentak akan hal ini. Tapi aku?
Aku bisa.
Saat ini aku terperangkap sendiri, mengikat dan
memaksa agar lepas dari kutukan ini. Tuan kece yang ada di
kota Pahlawan, apa kau disana mengingatku? Mengingat persis akan apa yang pernah kita lakukan
bersama?
Berpagut dalam
suasana rindu,kau pulang dan hal pertama yang kau lakukan adalah mencium
keningku, berbisik aku merindukanmu. Kau
sempat mengingatnya? Bahkan saat kau bersamanya? Tidak. Kau bukan orang yang
suka memeluk kenangan.
Kita juga
pernah bergelut tawa dalam sebuah ruang, yang disaat itu kau berbicara dalam
panggilan. Kau sibuk dengan percakapanmu, dan saat itu aku mencoba untuk
meriuhkan suasana. Ku dekatkan wajahku setengah senti dari wajahmu, kecup manis
terjadi. Dan kita tertawa. Manisnya..
aku yakin kau tidak akan mengingatnya,sedikitpun dari hal itu.
Gadis bodoh yang dengan lancangnya masih menaruh
harapan,
masih sempat bermimpi, dan masih sering mengeluh
dalam kenangan yang kau anggap ABU ; aku.
Arumm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar