Senin, 10 Juni 2013

Hilang

Kupandangi foto itu. Aku tahu itu berdebu, tapi kutiup debu itu hingga sosok yang ada difoto itu terlihat kembali.

Aku terpaksa menahan air mata yang kini memaksa untuk keluar karena kejadian tadi malam.
Aku mungkin sudah gila. Tapi kini aku sadar, semuanya memang harus dilakukan. Dulu, aku memang tak peduli tentang apa yang terjadi, tentang siapa kamu, tentang kepunyaanmu, tentang penegasanmu, tentang angan-anganmu aku tak begitu peduli. Tapi saat ini, Tuhan membisikku bahwa semua sudah sepantasnya menghilang.
“Lepaskan, hempaskan, lupakan!” kata Tuhan. Ku terdiam, kupaksa diriku untuk bangun. “Kamu bisa Selly!” ku katakan pada diriku sendiri. “Sekarang, kau tak perlu untuk bernostalgia kembali, kau tak perlu bersusah payah untuk menyiapkan dan membangun hal indah nanti jika bersamanya. Kau tak perlu bersusah payah memikirkan hal yang akan kau kerjakan nanti bersamanya. Indah bukan? Karna hanya ada dirimu sendiri!” aku mempertegas diriku sendiri.
Yaa.. ini sudah rencana Tuhan. Aku harus terima. Disana, dia sudah bahagia tanpaku sejak dulu. Sejak aku mengenali dan menjadikan dia sebagai pemujaku, tapi itu dulu. “Sekarang sudah tak ada alasan lagi untuk maju. Stop sampai disini selly, kau tahu Aku menyayangimu.” Seru Tuhan menggema dihati dan telingaku. “Tuhan, aku tahu ini semua membingungkan, tapi aku akan menuruti permintaan-Mu. Maafkan aku yang tak pernah mendengar-Mu tentang ini. Kau benar, harusnya aku pergi dari dulu. Terima kasih Tuhan, Kau telah menyadarkanku.” Balasku pada Tuhan.
Tetesan kerelaan mengakhiri semuanya. Kukembalikan foto yang telah kupandangi sejak tadi kedalam kardus barang. Foto yang membuatku merasa takut, bahagia, sedih dan kecewa. Entah foto apa yang aku lihat sejak tadi aku lupa. Ku tutup kembali rapat,dan ku jauhkan dari pandanganku.
“Selly,bolehkah Mama membawa kardus milikmu ini ketukang loak? Mama ingin menyumbangkan barang yang sudah tak berguna.” Terdengar suara mama memecahkan keheningan. Aku mencoba untuk menghembus nafas pelan, aku terdiam sejenak dan mulai berbicara. “Silahkan Ma, kardus itu sudah tak lagi indah. Itu barang tak berguna.” Sahutku santai.

Arumm-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar