Kupandangi foto itu. Aku
tahu itu berdebu, tapi kutiup debu itu hingga sosok yang ada difoto itu
terlihat kembali.
Aku terpaksa menahan air
mata yang kini memaksa untuk keluar karena kejadian tadi malam.
Aku mungkin sudah gila.
Tapi kini aku sadar, semuanya memang harus dilakukan. Dulu, aku memang tak
peduli tentang apa yang terjadi, tentang siapa kamu, tentang kepunyaanmu,
tentang penegasanmu, tentang angan-anganmu aku tak begitu peduli. Tapi saat
ini, Tuhan membisikku bahwa semua sudah sepantasnya menghilang.
“Lepaskan, hempaskan,
lupakan!” kata Tuhan. Ku terdiam, kupaksa diriku untuk bangun. “Kamu bisa
Selly!” ku katakan pada diriku sendiri. “Sekarang, kau tak perlu untuk
bernostalgia kembali, kau tak perlu bersusah payah untuk menyiapkan dan
membangun hal indah nanti jika bersamanya. Kau tak perlu bersusah payah
memikirkan hal yang akan kau kerjakan nanti bersamanya. Indah bukan? Karna
hanya ada dirimu sendiri!” aku mempertegas diriku sendiri.
Yaa.. ini sudah rencana
Tuhan. Aku harus terima. Disana, dia sudah bahagia tanpaku sejak dulu. Sejak
aku mengenali dan menjadikan dia sebagai pemujaku, tapi itu dulu. “Sekarang
sudah tak ada alasan lagi untuk maju. Stop sampai disini selly, kau tahu Aku
menyayangimu.” Seru Tuhan menggema dihati dan telingaku. “Tuhan, aku tahu ini
semua membingungkan, tapi aku akan menuruti permintaan-Mu. Maafkan aku yang tak
pernah mendengar-Mu tentang ini. Kau benar, harusnya aku pergi dari dulu.
Terima kasih Tuhan, Kau telah menyadarkanku.” Balasku pada Tuhan.
Tetesan kerelaan mengakhiri
semuanya. Kukembalikan foto yang telah kupandangi sejak tadi kedalam kardus
barang. Foto yang membuatku merasa takut, bahagia, sedih dan kecewa. Entah foto
apa yang aku lihat sejak tadi aku lupa. Ku tutup kembali rapat,dan ku jauhkan
dari pandanganku.
“Selly,bolehkah Mama
membawa kardus milikmu ini ketukang loak? Mama ingin menyumbangkan barang yang
sudah tak berguna.” Terdengar suara mama memecahkan keheningan. Aku mencoba
untuk menghembus nafas pelan, aku terdiam sejenak dan mulai berbicara.
“Silahkan Ma, kardus itu sudah tak lagi indah. Itu barang tak berguna.” Sahutku
santai.
Arumm-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar